MELAKUKAN SEGALA SESUATU SEPERTI UNTUK TUHAN


MELAKUKAN SEGALA SESUATU SEPERTI UNTUK TUHAN
( Kolose 3 : 23 )

Kita tentu masih belum lupa dengan bencana alam nan dahsyat di Aceh, Sumatra Utara dan Nias di bulan Desember 2004 lalu. Musibah besar tersebut mengundang kesibukan luar biasa. Simpati dan empati yang berdatangan dari segala penjuru menghasilkan pengumpulan dana kemanusiaan terbesar yang pernah disaksikan generasi ini.

Natal dan Paskah di gereja-gereja juga mengundang kesibukan. Panitia dan anggota jemaat bekerja keras menyusun acara dan menggalang dana agar acara yang digelar dalam dua peristiwa gerejawi tersebut bisa terlaksana dengan sempurna. Bahkan bukan cuma Natal dan Paskah. Sehari-hari pun, gereja berisi kesibukan. Selain kegiatan rutin di Kantor Tata Usaha atau Sekretariat, masih banyak aktivitas lain seperti persekutan doa, persekutuan jemaat, pemahaman alkitab, latihan paduan suara, pelawatan, juga pelayanan kepada masyarakat luar.

Keluarga pun tak kalah sibuk. Sejak matahari terbit hingga terbenam, setiap anggota keluarga memiliki peran dan tugas masing-masing. Ayah bekerja keras mencari nafkah, ibu bekerja tak kalah keras menata dan mengelola rumah tangga. Bahkan tak sedikit para ibu yang berperan ganda. Anak-anak pun sama sibuknya. Bukan hanya harus memeras otak untuk menyelesaikan sekolah / studinya, namun juga dikondisikan untuk terus menempa diri melalui berbagai kegiatan di luar rumah dan sekolah.

Pertanyaannya adalah, sebenarnya untuk siapa kita melakukan semua itu? Ketika relawan nusantara ataupun relawan mancanegara merawat para korban di Aceh dan sekitarnya, yang dilayani adalah manusia. Ketika paduan suara gabungan mempersembahkan pujian megah di malam Natal, yang kelihatan adalah jemaat atau umat. Di saat melakukan pengobatan cuma-cuma atau membagikan sembako di sebuah tempat kumuh, yang dilayani adalah masyarakat miskin yang mengundang belas kasihan. Pada waktu para suami bekerja keras mencari nafkah, yang terlintas di pikiran mereka adalah isteri dan anak.

Kolose 3:23 menolong kita menjawab lebih jauh pertanyaan di atas. Ayat tersebut mengatakan, "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia". Artinya, sekalipun nampaknya kita melakukan semua itu bagi orang lain, namun Tuhan mengingatkan bahwa kita tidak boleh berhenti hanya sampai di situ. Tuhan menginginkan agar apapun yang kita perbuat, kita lakukan bukan sekedar untuk manusia saja, melainkan bagi Tuhan. Kata "seperti" dalam ayat tersebut bukan menunjuk kepada sebuah kepura-puraan, namun memiliki makna "seindah yang dilakukan buat Tuhan". Bukan hanya menyenangkan hati manusia, tapi terlebih menyenangkan hati Tuhan. Dengan memahami ayat tersebut, berarti kita didorong untuk melakukan semuanya dengan motivasi yang baik dan benar, yang mengarah kepada Dia. Karena kontrol atas semua perbuatan kita bukan pada manusia belaka, namun ada pada Tuhan. Kita melakukan segala hal dengan komitmen penuh, bukan karena diminta manusia melainkan karena kita mempesembahkannya bagi Tuhan. Artinya :

- Sebagai relawan dalam sebuah musibah, kita menolong para korban dengan tulus karena kita melakukannya untuk Tuhan, bukan untuk mengampanyekan diri agar dipilih menjadi caleg, misalnya. Juga bukan karena iseng belaka daripada di rumah tak ada yang dikerjakan. Sebagai relawan kita mengulurkan tangan kepada para korban karena didasari oleh motivasi untuk tetap mengalirkan kasih Kristus tanpa membedakan siapapun mereka.

- Sebagai anggota paduan suara, kita melatih diri dengan sungguh-sungguh, karena kita mempersembahkannya bagi Tuhan, bukan karena sekedar bertugas mengisi sebuah ibadah. Dengan demikian, kita tak lagi malas latihan, atau bersikap ogah-ogahan dalam mempelajari sebuah partitur lagu.

- Sebagai suami, kita bekerja dengan giat bukan semata-mata untuk mencari nafkah, namun karena sungguh-sungguh menyadari bahwa ketaatan kepada Allah, mula-mula memang harus berasal dari keluarga. Jadi, dalam bekerja pun tetap berorientasi kepada Kristus, menjadikan Dia sebagai panutan. Entah kita dalam posisi sebagai majikan, pimpinan atau karyawan.

Kita memang tak pernah tahu sampai berapa lama Tuhan memberikan kesempatan untuk menjalani kehidupan di muka bumi ini. Namun, berapapun jumlah waktu yang Dia anugerahkan, semoga kita dimampukan mempersembahkan hidup kita bagi Dia...

***
( sisilia lilies - kota wisata )



sisilia lilies
Email: sisilia_lie2001@yahoo.com

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index Renungan

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved