Doa Seorang Imam Pada Minggu Malam


Malam ini, saya sendirian Tuhan, perlahan suara bising mereda di gereja.
Umat telah pergi, dan saya kembali ke rumah, sendiri.
Aku berpapasan dengan mereka yang kembali berjalan.
Aku lewati bioskop, sedang penonton berhambur seusai pertunjukan.
Aku bertabrakan dengan anak-anak bermain di jalanan, anak-anak Tuhan, anak-anak milik orang, dan tak pernah jadi milikku sendiri.
Aku disini Tuhan, sendiri, sunyi, menyesah diriku sepi menekan aku.

Tuhan, umurku sudah 40 tahun.
aku memiliki tubuh seperti orang lain, siap bekerja, hati ditakdirkan mencinta, tetapi segalanya kukembalikan kepadaMu, memang Engkau membutuhkannya.-

Aku telah memberikan segalanya kepadaMu, tetapi betapa berat Tuhan!
Betapa sukar membela diri, lebih mudah menyerahkan diri kepada orang lain.
Betapa sukar mencintai semua orang, sambil tak memilikinya.
Betapa sukar berpegang tangan, sambil tak menuntutnya untuk diri semata.-
Betapa sukarnya bahwa setelah mereka kuilhami cinta, aku harus menyerahkan seutuhnya bagiMu.
Betapa sukar menjadi tak berarti sesuatupun bagi setiap orang, sembari menjadi segala-galanya bagi mereka.
Betapa sukar menjadi seperti orang lain, berada di antara mereka dan bersatu dengan mereka.
Betapa sukar untuk senantiasa memberi tanpa boleh berhak menerima.
Betapa sukar mencari yang hilang, sambil tak diperhatikan
seorangpun.
Betapa sukar setelah menderita kedosaan orang lain, kita diharap mesti mendengar mereka dengan pengertian.
Betapa sukar diberitahu tentang segala rahasia, sambil sendiri tak kuasa menyelesaikannya.
Betapa sukar menopang yang lemah, sambil tak boleh ditantang sesuatupun.
Betapa sukar bersendiri, sendiri diantara manusia, sendiri di tengah dunia, sendiri menanggung derita, kematian dan dosa.

Anakku.....
Engkau tidak sendirian, Aku besertamu, Akulah engkau,
Aku butuh perantara, pelanjut, penjelmaan dan penebusanKu.
Dari keabadian, Aku memilihmu dan membutuhkan engkau.
Aku butuhkan tanganmu, melanjutkan berkatku.
Aku butuhkan bibirmu, melanjutkan kata-kataKu
Aku butuhkan tubuhmu, melanjutkan deritaku.
Aku butuhkan hatimu, melanjutkan cintaku.
Aku butuhkan engkau, untuk menyelamatkan.
Tinggallah setaKu, puteraKu! Di sini Aku, Tuhan, hatiKu, jiwaKu.

Tuhan...
Semoga saja aku cukup besar untuk menjangkau dunia
cukup kuat menanggungnya,
cukup ikhlas mengarkulnya tanpa berangan memilikinya.
Semoga saja aku boleh jadi pusat pertemuan, tapi cuma
sementara, seakan jalan yang tidak buntu di sini, mela-
inkan menghantar segalanya yang terkumpul kepadaMu.

Tuhan...
pada malam ini, sedang segalanya diam membisu, dan
saya terlampu tersiksa kesepian, sedang manusia
meluluh diriku, tapi aku tak kuasa memuaskan dahaga-
nya, sedang semesta dunia yang sarat derita dan dosa
menindih diriku, ku ikhlaskan lagi kepadaMu jawab "ya"-
ku, bukan dengan segala ledak-tawa yang bangga,
tapi cuma dengan enggan dalam keheningan dan kese-
derhanaan, sendirian aku di depanMu Tuhan, pada keda-
maian senja hari.

Michel Quoist
dari buku Perayaan Ekaristi Keluarga Besar Unio KAJ - 10 Mei 1997





Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index Doa

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2010 Pondok Renungan
All Rights Reserved