KATYN


Di layar-layar Italia sebuah “masterpiece” dari sutradara Andrzey Wajda.
Puluhan orang pemerintahan Polandia dibunuh oleh serdadu Nazi
dan sekitar 22.000 lainnya dibunuh dengan kejam oleh militer Soviet.
Yang menghadapi kematian dengan menggenggam rosario di tangan mereka.
Memberikan kesaksian akan kepahlawanan dan akan iman dari seluruh masyarakatnya.
Sebuah pelajaran tentang kebebasan yang masih berlaku.


Dengan pembukaan ini saya mulai perjalanan mengulas dan merenungkan arti kebenaran dan kebebasan melalui KATYN, yang saya saksikan di sebuah bioskop sederhana milik sebuah Paroki di kota Caronno Pertusella di propinsi Milano.

“Tidak dapat kita lupakan para korban dari kejahatan teror Nazi dan yang kemudian dari militer Stalin. Kita berlutut di hadapan makam pahlawan tanpa tanda jasa, yang menyadari bahwa mereka telah membayar dengan harga yang mahal demi kebebasan kita. Boleh dikatakan, mereka telah memberikan sebuah forma yang tepat akan kebebasan itu. Kita berlutut terutama di hadapan makam di Katyn. Kebenaran tentang Katyn selalu hadir dalam hati nurani kita dan tidak dapat dihilangkan dari sejarah Eropa”. Dengan kata-kata ini Bapa Suci Yohanes Paulus II menyampaikan kepada seluruh anggota dari komunitas Polandia di kota Roma dan Lazio, dalam pidatonya pada kesempatan ucapan salamat Natal tanggal 24 Desember 1993.

Kebenaran terkubur selama puluhan tahun
Hanya tiga tahun sebelumnya secara formal dan pasti dibantah sebuah versi yang telah dipaksakan kepada Polandia dan dunia, tentang kisah pembantaian di hutan Katyn pada tahun 1940. Dalam kejadian tragis itu, 22.000 orang pemerintahan Polandia dibunuh oleh militer Soviet dengan sebuah tembakan pistol di dahi, dan dikuburkan secara masal, termasuk diantara mereka 7.000 warga sipil (guru, dokter, ahli bangunan, artis, dosen perguruan tinggi, ilmuwan, ahli hukum, profesional, pada prakteknya semua kelas pemimpin masa depan Polandia). Saat pada tahun 1943 pasukan Hitler menemukan dan mengambil foto kuburan massal di hutan Katyn, dekat kota Smolensk, di Rusia, pemerintah Soviet membantah setiap andil mereka, dan memfitnah pasukan Jerman atas pembantaian itu. Saat itu Perdana Menteri Inggris Churchill, dan bersamanya presiden Amerika Serikat Roosevelt, karena ketakutan mereka bahwa kebenaran tentang pembantaian itu dapat mengendurkan persekutuan mereka dengan Uni Soviet, memutuskan untuk tidak melakukan penyelidikan, meski telah ada desakan dari pemerintah Polandia di perantauan di kota London. Hanya pada tahun 1990 Gorbachev pada akhirnya mengakui kesalahan dari Bangsanya dan dari kaum Komunis, dengan menerbitkan kepada publik semua dokumen yang mengungkapkan bahwa Stalin dan Beria, kepala Nkvd, polisi rahasia di Moskow sebagai penanggungjawab dari pembunuhan itu. Sekarang sejarah dramatis itu menjadi sebuah film, Katyn, yang diputar pada tahun 2007 dan yang beberapa saat lalu hadir di layar-layar bioskop Italia, disutradarai oleh maestro perfilman Eropa berusia 83 tahun, Andrzej Wajda.

Wajah Ibu Maria di hati
Sutradara Polandia itu menjelaskan bahwa film yang dibuatnya adalah buah dari pemikiran yang panjang dan melelahkan, argumentasi dari dua pandangan berbera. Katyn sebagai kejahatan dan kebohongan, semenjak Soviet selama setengah abad menuduh pasukan Jerman sebagai pelaku utama. Korban dari pembantaian itu salah satunya adalah ayah Andrzej, Jakub Wajda, seorang kapiten dari pasukan rejim 72, yang dibunuh pada tahun 1940 oleh militer Stalin di Chankow dan dikubur di sebuah hutan dekat situ. Andrzej Wajda hanya berusia 13 tahun pada saat melihat ayahnya terakhir kali. Di pagi hari saat mereka menangkap ayahnya, Andrzej ingat akan perpisahan yang menegangkan dan akan sikap spontan dari ibunya: “saat ayahnya meminta sebuah medali berwajah Maria, ibunya memberikan medali itu dan menaruhnya di hatinya. Sebagai tanda perlindungan”. Namun nasib dari serdadu Polandia telah ditentukan, Pasukan Merah telah memutuskan akhir hidup mereka. Wajda mendedikasikan film ini kepada ayahnya yang tak pernah kembali, kepada ibunya Aniela yang telah menunggunya sampai tahun 1950, saat meningea, tanpa mengetahui kebenaran, dan kepada semua pihak yang telah hidup dalam kesedihan. Di Katyn, telah dibunuh polisi intelligent Polandia. Korban-korbannya adalah serdadu yang dipenjara tanpa pembelaan, yang dilarang pembunuhannya oleh komisi hak internasional, warga sipil yang dihukum dan dibunuh atas dasar tuduhan tak mendasar, tidak ada satupun diantara mereka telah melakukan aksi melata Urss.

Polandia terpecah dua
Film dimulai dengan sebuah adegan epik, yang menetap dalam sejarah film: pelarian dua kelompok warga yang bertemu di atas jembatan. Dari satu sisi, dari sebelah barat, warga Polandia yang berusaha melepaskan diri dari pasukan Jerman; dari sisi lain, dari sebelah timur, sesama warga mereka yang berusaha melarikan diri dari Pasukan Merah. Terjadi pada tahun 1939. Mengikuti Perjanjian Molotov-Ribbentrop, sebuah aksi gencatan senjata yang dibuat antara Nazi Jerman dan Uni Soviet (pada saat itu mereka belum saling bermusuhan), Hitler dan Stalin telah memutuskan untuk memecah wilayah Polandia. Krystyna Brydowska, wakil presiden dari Federasi Korban di Katyn, anak perempuan dari seorang komandan polisi yang dibunuh, berada di jembatan itu diantara dua kelompok warga yang ketakutan: dialah anak perempuan yang tampil di film. Serdadu-serdadu sederhana yang ditangkap oleh tentara Rusia digunakan tenaganya untuk membangun jalan-jalan, sebagai buruh di pertambangan. Sedangkan untuk orang-orang pemerintahan yang dipenjara, dianggap sebagai “musuh berkelas”, banyak dari mereka yang melewati hari-hari mereka menggenggam rosario di tangan, didirikan dua kamp: Kozielsk, di Smolensk, dan Starobielsk. Polisi-polisi ditempatkan di kamp Ostashkov. Mayat-mayat mereka, setelah eksekusi masal, dibuang di sebuah kuburan masal di Charkov dan Mednoe.

Wajda: “Kaum muda harus mengetahui kebenaran”Wajda memutuskan untuk menulis naskah film berdasarkan surat-surat yang ditulis oleh korban penjara yang dibunuh. Ia menggunakan catatan harian ibunya, yang ditulis setiap hari, dengan harapan ayahnya kembali. Perempuan-perempuan Polandia mengkonsakrasi hidup demi menantikan kembalinya para suami mereka, ayah, anak, saudara laki-laki mereka. Oleh karenanya di film ini, para tokoh wanitanya sangat dominan. Satu per satu dari mereka menjawab kesedihan dengan cara yang berbera: Anna sampai akhir tetap percaya akan kembalinya suaminya, Roza menolak untuk menerima versi Soviet, Agnieszka di masa paska perang menantang polisi rahasia untuk menghormati saudara laki-laki nya yang dibunuh di Katyn dengan tugu kenangan. Saat pada tahun 1943 pasukan Jerman menemukan kuburan massal, mayat-mayat mereka belum lagi menjadi kompos. Setiap serdadu memiliki padanya dokumen-dokumen, yang masih dapat dibaca. Kesemuanya itu dikembalikan kepada anggota keluarga yang ditinggalkan. Film ini mengisahkan fakta, para aktor dan aktris telah bekerja atas kesaksian nyata. Di museum Katyn, dikumpulkan barang-barang peninggalan para korban, diantaranya ratusan kunci rumah yang di bawa para korban dalam perang seperti meyakinkan mereka bahwa mereka akan kembali pulang. Di sebuah sudut ditempatkan barang-barang religius.

Kebenaran kembali ditutupi secara diam-diam
Dalam pembantaian itu yang meninggal belum lagi ditentukan dalam jumlah yang pasti, para pastor Katolik dan Ortodox, pendeta-pendeta Luteran dan Evangelis, para rabbi dan imam yang mewakili komunitas muslim kecil. Pada akhir tahun 80, sanak keluarga para korban menetapkan, sesuai persetujuan pastor Jozef Gawlina, untuk membuat tugu peringatan di dalam gereja Santo Bartolomeus, di Warsawa. Pada tahun 1989 pastor Jozef dibunuh oleh polisi inteligen rahasia dari regim komunis. Dalam kunjungannya ke Polandia pada tahun 1999, Paus Wojtyla berdoa dihadapan tugu itu, dan mengenang semua pastor Polandia yang dibunuh demi iman dan kebebasan. Sejak tahun 2004 kehakiman Polandia tidak lagi memiliki akses atas dokumen-dokumen yang berisikan penyelidikan Rusia atas pembantaian itu, dimulai dari Gorbachev selama periode Perestrojka. Dari 183 dokumentasi, 116 ditutup kembali oleh inteligen rahasia Negara. Sehingga belum dapat lagi diketahui nama dan tempat pemakaman dari 3.500 warga Polandia yang dibunuh oleh Soviet pada tahun 1940.

Hadirin diam terpaku
Film ini telah mendapatkan nominasi Oscar 2008 sebagai film asing terbaik. Pada awal peluncurannya di kota Berlin, semua hadirin tetap duduk diam terpaku. Di Warsawa orang-orang yang keluar memulai doa bagi para korban (di Polandia film itu disaksikan lebih dari tiga juta penonton). Bahkan, pada pembukannya di Moskow, seseorang meminta satu menit berdiam untuk mengenang serdadu yang dibunuh di Katyn dan penonton semuanya bangkit berdiri. Pada saat itu, kata Wajda, dia mengerti motif mengapa telah membuat film ini: “aku percaya bahwa sebuah film masih mampu menciptakan kesadaran politik dan budaya”. Sayangnya di Italia film yang keluar pada bulan Februari lalu, hanya didistribusikan dalam jumlah yang tak berarti. Film-kebenaran ini sebaiknya diputar di semua sekolah-sekolah.

Kesimpulan
Melalui KATYN, kesedihan dari seluruh bangsa Polandia diperbaharui kembali dengan gaya yang kering dan polos, menyajikan gambar-gambar dokumentasi kuno – sebuah tragedi bersejarah yang telah mewarnai hidup Bangsa ini selama puluhan tahun.
Melalui KATYN, kita mengenang tidak hanya martabat dan keberanian para korban, namun juga usaha tak kenal lelah dalam mencari kebenaran dan harapan yang kukuh dari para perempuan yang menunggu mereka di rumah. Demikian kita melihat para ibu, istri, anak-anak, adik, menantikan, dengan sia-sia, kembalinya orang-orang yang dicintai; seperti Anna, istri Andrzej, seorang kapiten dari pasukan rejim 8, yang bersama anak perempuan mereka Nika menunggu selalu dengan harapan kecil melihatnya kembali.

Setelah perang usai, saat kebenaran mulai terungkap – dan tesis yang menyatakan keterlibatan Nazi menunjukkan kepalsuan – para sanak keluarga harus memutuskan antara memproklamasikan kebenaran, membayarnya dengan nyawa, atau memilih menutup mulut dengan kepedihan, demi mencari kesempatan membangun kembali sebuah bangsa dari reruntuhan.

Tetapi KATYN, adalah juga sebuah kesaksian dari sebuah bangsa yang bangga akan akar dan tradisi dan tekun dalam iman mereka, melalui para korban yang menghadapi kematian dengan kepala tegak dan membacakan doa Bapa Kami, sementara orang-orang yang diliputi dengan kebencian dan ideologi membunuh mereka secara keji seperti binatang liar.


Berikut adalah beberapa kumpulan kutipan baik dari Injil dan orang-orang bijak, yang menjadi panduan hidup kita mencari: Kebenaran dan Kebebasan.

1. Injil Yohanes 8:32
Kebenaran akan membebaskan engkau.

2. Injil Yohanes 14:6
Yesus, sang Mesias berkata:
“Aku adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Tidak ada seorangpun datang kepada Bapa, Pencipta Semesta Alam, selain melalui Aku”

3. Paus Benediktus XVI
Homili dalam rangka Upacara Pemakaman Mons. Luigi Giussani, pendiri gerakan Katolik Communion and Liberation:
“Kebebasan untuk menjadi sejati, dan oleh karenanya menjadi efisien, memerlukan sebuah persekutuan (komuni), dan bukan persekutuan apapun, melainkan persekutuan dengan kebenaran itu sendiri, dengan kasih itu sendiri, dengan Kristus, dengan Allah Tritunggal. Dengan demikian dapat dibangun sebuah komunitas yang menciptakan kebebasan dan memberikan kebahagiaan”.

4. Mons. Luigi Giussani, pendiri gerakan Katolik Communion and Liberation (CL)
Percakapan dengan grup CL:
“Jika di dalam diri manusia ada sesuatu yang berasal langsung dari asal segala hal, dunia, jiwa, maka manusia sungguh-sungguh bebas.
Manusia tidak dapat menganggap dirinya bebas secara absolut: karena sebelumnya tidak ada dan sekarang ada, tergantung. Pilihannya sangat sederhana: apakah tergantung dari Apa yang menjadikan kenyataan, yaitu dari Allah, atau tergantung dari penggerak kenyataan, yaitu dari kekuasaan. Ketergantungan dari Allah adalah kebebasan seorang manusia dari orang yang lain. Yang terpenting dari seorang manusia adalah kebebasan, yaitu hubungan dengan Sang Ilahi”.

5. Unkown
Kebenaran itu berat, oleh karena itu tidak banyak orang mau menanggungnya.

6. Galileo:
Semua kebenaran adalah mudah untuk dimengerti setelah mereka diketemukan; masalahnya adalah menemukan mereka.

7. Saint Joan of Arc:
Anak-anak berkata bahwa kadang orang-orang digantung karena mengungkapkan kebenaran.


Oleh: Shirley Hadisandjaja
Milano, 5 Juni 2009



Shirley Hadisandjaja
Email: sicilia_shirley@yahoo.com

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2010 Pondok Renungan
All Rights Reserved