Kasih Untuk Anakku (1)


Kulangkahkan kakikku menjauhi kamar hotel itu, sambil menyibakkan rambutku dan sekali-kali melihat kaca yang kulewati sepanjang koridor hotel ini. Sekilas kulihat diriku masih langsing dan cantik. Itu pun banyak orang yang menilaiku demikian. Banyak pasang mata melirikku seakan menghantarku keluar dari hotel ini.

Aku melihat keramaian suasana dini hari, walau sudah menjelang subuh tapi masih ramai sekali suasana di daerah kota ini, dan di lampu merah malam itu, seorang gadis kecil meminta uang kepadaku, aku menatapnya dan menanyakan kepada supir taksi apakah dia mempunyai uang lima ratus rupiah. Kuberikan uang itu kepadanya dan tergambarkan senyum dibibirnya.

Aku mulai terbayang kepada kedua anakku sendiri, anakku yang hampir tiap malam kutinggalkan setelah mereka tertidur, mereka sudah harus menderita didalam dunia ini, ditinggalkan ayah mereka ntah kemana, pergi begitu saja melihat kenyataan hidup ini, pergi meninggalkan diriku yang tidak mempunyai apa apa untuk hidup. Disaat dimana anak anak itu memerlukan susu, memerlukan makanan, aku harus bisa menjadi seorang ibu dan ayah bagi mereka. Mereka hanya tahu kalau ayahnya sedang pergi merantau ke kota lain dan mereka hanya tahu kalau ibunya adalah seorang penjual jamu.

Tiap pagi aku mulai menyiapkan olahan jamu dan juga mengasuh mereka, siangnya setelah aku berkeliling, aku rebahkan diriku sambil mendengarkan kedua anakku bermain dan membaca. Kutatap wajahnya, semakin hati ini menjerit ketika melihat si sulung, teringat minggu lalu, saat ia mengajakku ke gereja. Saat itu aku tahu, aku tidak pantas Tuhan, aku tidak mau mengotori tempat kudusMu, dengan diriku yang sudah kotor ini, aku tidak mau Tuhan, tapi apa yang harus kukatakan kepada anakku? Apa yang harus kujelaskan kepada dia? Apakah nanti dia tidak bertanya kenapa mamanya tidak mau masuk ke gereja?

Kupandangi salib tua yang telah sekian lama berada di dinding rumahku, semakin hati ini menjerit, semakin aku sedih, dan aku hanya bisa berkata, aku ingin berhenti dari semua ini Tuhan suatu waktu nanti, dimana anakku sudah beranjak dewasa, aku tidak ingin mereka mengetahui diriku seperti ini, aku tidak mau mereka terpukul lebih jauh, aku hanya ingin satu hal ya Tuhan, biarkan diriku hancur sedimikian rupa, karena aku tahu aku yang memilih jalan ini, jalan hidup yang bisa kulakukan untuk membuat aku dan anakku hidup, tapi aku hanya mohon agar kedua anakku bisa hidup layak dan bisa merasakan kasih seorang ibu dan juga kasihMu, begitu berat hidup ini dan begitu tidak layaknya aku dihadapanMu, satu keinginanku, ingin melihat kedua anakku bahagia.

Januari 2004



vids - Pondok Renungan
Email: vids@pondokrenungan.com

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved