Meneladani Maria


Mengapa kita meneladani Maria ?

Sebagai sosok manusia yang terdekat dengan Tuhan, tentunya Maria mempunyai banyak nilai yang bisa kita teladani.
Maria adalah seseorang yang Tuhan rencanakan sejak awal untuk kedatanganNya ke dunia ini. Tuhan sangat kuasa, Dia mempersiapkan segala sesuatu di luar pikiran kita, dan Dia pun mempersiapkan kedatanganNya di dunia ini, Dia telah menyiapkan Maria untuk mengandung oleh Roh Kudus.
Kita bisa merenungkannya, apakah Tuhan akan datang dengan manusia yang berdosa ? Tuhan telah mempersiapkan Maria, sehingga kita menyebutnya perawan tak bercela, Tuhan memberinya karunia yang besar dan juga tanggung jawab yang besar.

Seperti Tuhan telah menyiapkan Yohanes Pembabtis untuk kedatanganNya demikian pula dengan sosok bunda yang menyatu dengan diriNya, tentunya Tuhan telah mempersiapkannya, apakah Tuhan yang suci itu dikandung oleh manusia berdosa ? Tuhan dalam hal ini pun memberikan kehendak bebas yang sama kepada Maria, Tuhan tidak memaksakan kehendak kepada Maria, tapi Tuhan ingin Maria memberikan kepada kita teladan, bahwa Tuhan telah memberikan kepada kita kehendak bebas, dan sebagai manusia kita diberikan hak untuk memutuskan apakah kita mau mengikuti atau tidak.

Lihatlah apa yang dilakukan Maria dan apa yang Tuhan berikan setelah Maria menjawab panggilan itu.
Dengan kerendahan hatinya, mengetahui siapa dirinya dan mengetahui kuasa Allah Bapa, maria mencontohkan kepada kita bagaimana menjalani hidup ini, dia mencontohkan bagaimana dia berhubungan dengan Tuhan, dan apakah dia pernah membanggakan dirinya sebagai bunda yang melahirkan Yesus ?



Kehidupan Maria bersama Yesus.

Pada saat pertama kali Tuhan menyampaikan salam kepada Maria melalui malaikan Gabriel, 'Salam hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau' (Lukas 1:28). 'Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus (Lukas 1:30-31)

Dan reaksi Maria adalah sesuatu yang sangat logis sebagai manusia, dia mengatakan 'Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?' (Lukas 1:34)

Bagi kita terutama seorang gadis, kabar itu adalah kabar yang sangat mengagetkan bukan, dimana Tuhan menyapanya dan memberitahukan bahwa dia akan mengandung dan dia masih seorang gadis, bagaimana tanggapan lingkungannya , apa pikiran orang lain terhadapnya ? apakah ini kabar baik bagi Maria ? apakah ini suatu kabar yang menakutkan dia.

Tapi Allah telah mengatur semua itu dan malaikat itu menyampaikan hal ini kepada Maria : 'Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah' (Lukas 1:35)

Dari perkataan itu Maria menanggapi semua itu, Maria pasrahkan semua itu, dia tau siapa dirinya, dan dia tahu kehendap Allah bapa, sehingga dia katakan : 'Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.' (Lukas 1:38)

Jika Tuhan memanggil kita, apakah kita siap seperti Maria, apakah kita siap meninggalkan segala sesuatu, menanggung semua ini dan berkata seperti Maria ? ataukah kita mengelak, tidak mendengarkan ?

Dan apa yang dilakukan Tuhan dalam hal ini ?

Tuhan tidak memaksakan kehendaknya bukan, tapi Dia memberikan Maria memutuskan inilah karunia manusia yang diberikan Tuhan, Tuhan membiarkan kita memilih, karunia kehendak bebas ini digunakan leh Maria dengan sangat baik.Lihatlah apa yang Tuhan lakukan jika kita mengikuti kehendakNya, kita bisa melihat melalui Maria dimana Elizabeth yang dipenuhi Roh Kudus berkata : 'Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?' (Lukas 1:42-43).

Maria dipermuliakan Tuhan karena kerendahan hatinya, karena pilihannya untuk memuliakan Tuhan. Dari peristiwa ini kita bisa melihat bahwa apa yang kita lakukan untuk Tuhan, Tuhan memberkati kita selalu.

Kemudian Maria dijodohkan dengan Yusuf, disini mungkin kita bisa melihat satu peristiwa lagi, dimana kita dijodohkan, bagaimana seorang gadis tanpa mengenal sesorang yang akan mendampinginya seumur hidupnya ?

bagaimana dengan kita, banyak yang menolaknya bukan, dengan dalih bagaimana mungkin kita tidak saling mengenal sebelumnya dan tidak ada rasa cinta, tapi Maria melakukannya lain, Dia menerima semua itu, Dia tidak meminta kepada Tuhan harus suami yang bagaimana, tapi dia pasrahkan semuanya kepada Tuhan. Apakah kita bisa seperti Maria ?

Saat mau melahirkan pun Maria harus berjalan jauh dan apa yang terjadi, mungkin kalau kita berpikir, Tuhan telah menyertai kita, maka Dia akan menyediakan segalanya, tapi apakah yang terjadi ?

Maria melahirkan dalam sebuah kandang, Yesus lahir dalam kesederhanaan, lihatlah sikap Maria, apakah dia protes tas semua ini ? apakah dia berhenti mengabdi pada Tuhan ? apakah dia mundur dari pelayanan ?

Tidak bukan, dia tetap terus menyertai Yesus.

Bagaimana dengan kita yang mungkin saja aktif di pelayanan terus mengalami gangguan sedikit terus protes, kok saya sudah capek-capek pelayanan tapi mengapa Tuhan tidak memberkati saya ? saya harus tetap menderita dan sebagainya. Disini kita bisa lihat bahwa Maria telah menunjukkan kepada kita bagaimana bersikap atas semua ini.

Sehabis melahirkan pun mereka harus pergi berjalan jauh, menghindari anak sulung yang ingin dibunuh, lihat betapa menderitanya seorang ibu yang sehabis melahirkan pun dia mesti berjalan jauh, dan dia tetap melakukan hal itu dengan kerendahan hatinya.

Setelah berumur 12 tahun, di dalam Bait Allah, terjadi suatu peristiwa dimana Maria dan Yusuf menegur Yesus dengan mengatakan : 'Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.' dan Yesus menjawab : 'Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?' (Lukas 2:48-49)

Disini terlihat bahwa Yesus telah mengatakan kepada Maria bahwa Maria mesti mengerti siapa Yesus, dimana dia mesti tau bahwa Yesus adalah Anak Allah, dan dia pun sudah tahu akan hal itu dan saat inilah dia ditegaskan oleh Yesus kembali.

Maria menyimpan semua itu dalam hatinya, dan sekali-kalinya Maria meminta Yesus melakukan kuasaNya adalah saat perjamuan di Kana, disitulah awal pertama kali Yesus melakukan mujijatnya di depan umum. Maria memintanya dan Yesus mengabulkannya dan itulah awal dari mujijat yang dilakukan Yesus, walau Yesus tahu ini belum saatnya tapi karena ibuNya dia mengabulkannya.

Berbagai peristiwa dialami Yesus, Maria berusaha menyertainya dan sampai pada peristiwa di pengadilan, Maria tetap menyertaiNya, dan saat di kayu salib Maria pun menyertai kematian Yesus.

Saat di kayu salib, Yesus berkata kepada Maria :'Ibu inilah anakmu' dna juga kepada Yohanes, 'Inilah ibumu'. (Yoh 19:26-27)

Betapa hebat perasaan Maria saat itu dimana dia mesti melihat anakNya menderita, bagaimana perasaan seorang ibu menyaksikan anaknya di hujat, diperolok, dipermainkan dan disalib dengan keji, Maria menerima semua itu, dan dia tetap menyertai anakNya dibawah kayu salib.

Bagaimana pula perasaaan dia ketika Yesus mengatakan bahwa Yohanes adalah anaknya, seorang ibu mengalami masa-masa yang sangat hebat saat melahirkan dan pastilah sangat mencintai anaknya, tapi saat menjelang kematian anaknya seakan-akan hilanglah semua itu, karena Yesus sendiri mengatakan kepada Maria, dengan mengambil Yohanes sebagai anaknya, bagaimanapun Maria tahu, Yesus adalah Anak Allah dan dia sendiri adalah seseorang yang Tuhan gunakan dan sebagai manusia pun, Maria merasakan bahwa bagaimanapun Yesus adalah anaknya, tapi Maria bertindak lain, dia sadar, dia tahu dan dia menyimpan semua itu dalam hatinya.



Bagaimana dengan kita ?

Kita bisa melihat bahwa perjalanan hidup Maria bersama Yesus adalah sangat berat dan banyak nilai-nilai yang terkandung didalamnya, bagaimana kita harus bersikap, dan Maria mengajarkan kerendahan hatinya, apakah pernah dia membanggakan dirinya dengan mengatakan dia adalah ibu Tuhan ? tidak bukan, selama hidupnya yang memuliakan dia justru Tuhan.

Saat ini apakah tidak pantas jika kita meneladaninya ? apakah semangat dan teladannya mati ?

Saya rasa tidak, semangatnya tetap ada, dan saya merasa tidak ada salahnya saya menghormati dia, dan menirukan teladan dan sikapnya yang rendah hati itu.

Sikap dan teladan Maria tidak akan mati, tetapi tetap tumbuh sampai saat ini.

Kita pun harus meneldaninya dengan baik, dan janganlah membuat suatu pandangan yang salah terhadapnya, karena sebagai seorang bunda kita, dia pun tahu yang dimuliakan adalah Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus.

Dan semuanya kembali kepada diri kita masing-masing untuk menggunakan karunia kehendak bebas kita dalam menjalani hidup ini, apakah kita mau meneladani Maria ?



vids - pondok renungan
Email: vids@pondokrenungan.com

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved