Pembaptisan Yesus dan Identitas Diri


Beberapa hari yang lalu saya menerima sebuah email dari seorang teman di Taiwan. Judulnya ¡§Hati-hati dengan identitas anda.¡¨ Yang dimaksudkannya adalah identitas yang tercatat dalam kartu-kartu penting terutama kartu kredit, karena katanya sekarang telah muncul cara baru memanipulasi kartu kredit orang dengan cara menjepret kartu tersebut saat seseorang melakukan transaksi di shopping mall. Kamera kecil di handphone bisa menjepret secara jelas nama, nomor serta expiration date yang tercatat dalam kartu kredit, dan identitas tersebut justru amat dibutuhkan untuk mengadakan transaksi lewat internet. Dan¡Ksungguh, dewasa ini identitas seseorang telah menjadi issue yang sensitif, dan karena itu identitas peribadi harus dijaga sebagai sebuah rahasia.

Sungguh sesuatu yang amat ironis. Justru dalam pesta yang kita rayakan minggu ini, kita berhadapan dengan suatu kenyataan di mana Tuhan kita secara publik mengumumkan identitas diriNya. Pengungkapan identitas diri Yesus secara publik ini sesungguhnya telah terjadi sejak minggu lalu ketika kita merayakan pesta tiga raja. Di saat itu Yesus diperkenalkan kepada dunia yang lebih luas yang melampaui batas-batas wilayah Israel, dan tiga raja yang datang dari wilayah yang berbeda-beda itu menjadi tanda bahwa Yesus diperkenalkan kepada seluruh umat manusia.

Hari ini ketika Yesus dipermandikan. Telah kita ketahui dari Kitab Suci bahwa begitu banyak orang berbondong-bondong datang mencari Yohanes di tepi sungai Yordan dan meminta untuk dipermandikan. Mereka bahkan telah datang mencarinya di padang gurun untuk mendengarkan warta pertobatan yang diberikannya. Kini mereka datang ke Yordan. ¡§Lalu datanglah kepadanya orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem, dan sambil mengaku dosanya mereka dibaptis di sungai Yordan.¡¨ (Mark 1:5). Kata-kata Yohanes sungguh bagai pedang bermata dua yang mampu menyayat mata hati mereka, dan karenanya mereka minta untuk dipermandikan sebagai tanda pertobatan mereka.

Saat Yesus dipermandikan!! Di tengah kerumunan orang banyak yang datang dari seluruh daerah Yudea dan Yerusalem ini Yesus dipermandikan oleh Yohanes. Dan apa yang terjadi di saat itu? Sekali lagi identitas Yesus diumumkan. Semua orang yang ada di tepi sungai Yordan itu pasti turut serta mendengar kata-kata pengumuman yang datang dari Surga ini: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." (Mat 3:17). Identitas Yesus dipublikasikan. Identitas Yesus diumumkan. Identitas Yesus disebar-luaskan. Dan identitas inilah yang menjadi semacam kurikulum dari kegiatan Yesus selama tiga tahun kehidupan publikNya. Identitas inilah juga yang menjadi semacam kompas yang mengarahkan seluruh hidup dan kegiatan Yesus, yakni untuk hidup sebagaimana layaknya seorang anak Allah, seorang anak yang dikasihi dan berkenan kepada Allah.

Anehnya¡K!! Ketika Yesus mempublikasikan identitas diriNya sendiri, kita malah berusaha untuk menyembunyikan identitas diri kita masing-masing. Kita berusaha menutup diri kita. Kita berusaha menutup pintu hati kita. Dan kita yakin bahwa dengan berbuat demikian kita akan menjadi lebih aman. Dengan cara demikian kita akan menjadi lebih bahagia. Tapi sungguhkah demikian? Bukankah dengan berbuat demikian kerutan di dahi kita menjadi semakin bertambah, karena kita takut kalau-kalau rahasia diri kita terbongkar? Kita dikejar ketakutan kalau-kalau bagian dari diri kita yang ketat dijaga selama ini ditelanjangi.

Pada hal justru yang sebaliknya yang selayaknya dilakukan, yakni secara terbuka menunjukan identitas diri kita, bukan sebagai seorang yang penakut, tetapi identitas diri kita sebagai anak yang dikasihi Allah, anak yang hidupnya berkenan kepada Allah. Masih ingatkah kita bahwa ketika kita dipermandikan kita diberi sebuah nama? Dan nama itu telah dimeteraikan menjadi sebuah nama yang istimewa, dan meterai tersebut bersifat kekal. Nama tersebut dimeteraikan oleh sesuatu yang teramat mahal, yakni darah seorang anak Allah, darah Yesus sendiri. Inilah ID kita, inilah identitas diri kita. Semoga kita tidak takut untuk menunjukan identitas diri kita kepada siapa saja.

Bagaimana caranya kita menunjukan identitas diri kita sebagai manusia yang tertebus? Bagaimana caranya kita membiarkan orang lain mengenal diri kita sebagai pengikut Kristus? Tentu saja bukan hanya dengan kata-kata. Kita tunjukan ID kita lewat perbuatan nyata, lewat tindakan kasih, lewat aksi menerima dan memaafkan orang lain. Mari kita coba!!!

Selamat Hari Raya Pembaptisan Yesus



Tarsis Sigho ¡V CTU (Chicago)
Email: sighotarsi@yahoo.com

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved